Integritas
Sering kita dengar, bahwa di salah satu institusi selalu menyebutkan bahwa institusi tersebut menggambarkan dirinya sebagai institusi yang ber integritas. Tetapi, sebetulnya apakah yang disebut sebagai integritas itu?

Menurut seorang Henry Cloud, seorang psikolog dan penulis kristiani Amerika,integritas adalah :
“it’s a holistic character trait that encompasses the ability to connect authentically, be oriented toward the truth, work effectively to achieve results, embrace challenges, embrace growth, and find meaning in life. It’s about being whole and aligned, both internally and in relationships, which leads to trust, effectiveness, and personal fulfillment.”
Ini adalah sifat karakter holistik yang mencakup kemampuan untuk terhubung secara autentik, berorientasi pada kebenaran, bekerja secara efektif untuk mencapai hasil, menghadapi tantangan, menerima pertumbuhan, dan menemukan makna dalam hidup. Ini tentang menjadi utuh dan selaras, baik secara internal maupun dalam hubungan, yang mengarah pada kepercayaan, efektivitas, dan pemenuhan pribadi.
Sedangkan menurut Stephen R. Covey, seorang penulis dan pakar manajemen terkemuka Amerika, beliau memisahkan antara kejujuran dengan integritas
Integritas menurut Stephen R. Covey adalah :
“integrity is not just about being honest (conforming words to reality) but about conforming reality to your words – keeping promises and fulfilling expectations. It’s about walking the talk, being consistent in your actions with your beliefs and values, and honoring your commitments to yourself”
Integritas bukan hanya tentang bersikap jujur (menyesuaikan perkataan dengan kenyataan) tetapi tentang menyesuaikan kenyataan dengan perkataan Anda – menepati janji dan memenuhi harapan. Ini tentang menjalankan apa yang Anda katakan, konsisten dalam tindakan Anda dengan keyakinan dan nilai-nilai Anda, dan menghormati komitmen Anda terhadap diri sendiri.
Kejujuran adalah mengatakan kebenaran, dengan kata lain, menyesuaikan kata-kata kita dengan kenyataan. Integritas adalah menyesuaikan diri dengan kata-kata kita, dengan kata lain, menepati janji dan memenuhi harapan.
Lalu, bagaimana kita melihat integritas ini dari perspektif Agama? Dalam agama kita, integritas yang di dimaksud, berhubungan dengan akhlaq. Seperti kita tahu, bahwa dalam hadits Al-Baihaqi, Nabi kita diutus untuk memperbaiki akhlaq.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Dari hadits tersebut, kita sadari bahwa integritas itu terlihat jelas hubungannya dengan garis dari agama kita yang prototype nya moralitas Islam dimanifestasikan oleh figur historis Nabi Muhammad. Karena itu, rujukan moralitas Islam adalah pesan-ideal verbal Ilahiyah al-Quran dan manifestasi historisnya, Nabi Muhammad. Melalui Nabi Muhamad kaum Muslim belajar tentang bagaimana menjadi pribadi yang berintegritas: sidiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan), fathonah (cerdas). Inilah lima karakter utama dari integritas yang dicontohkan Nabi Muhammad.
Dari paparan Integritas menurut Henry Cloud, Stephen R. Covey dan garis Agama Islam, dapat kita ambil garis yang jelas bahwa Integritas adalah konsistensi antara ucapan dan tindakan dalam memenuhi janji dan harapan. Maka, konsistensi ini yang merupakan tantangan bagi kita, untuk bisa menjalankan makna Integritas bagi kehidupan kita, baik kita sebagai seorang pendidik, sebagai anggota masyarakat maupun sebagai individu.
Bahan Bacaan :
INTEGRITAS PERSPEKTIF ISLAM —Dr. M. Subhi-Ibrahim –Dhea Dayuranggi Meghatruh